Komentar BJ. Habibie

Komentar BJ. Habibie

Kita Butuh Skill Bukan Ijazah”

(Komentar Prof. Dr-Ing BJ. Habibie : Pembina YKB)


Letak strategis pulau Batam harus bisa dimanfaatkan dan dikembangkan secara cerdas dan baik seperti yang telah dilakukan oleh Singapura. Sebab pulau Batam menyimpan potensi yang besar sebagai salah satu pusat keunggulan melalui pemanfaatan  sumber daya manusia (SDM) dan teknologi secara tepat guna dan canggih.

            Berkaitan dengan pembangunan dan pengembangan pulau Batam, saya pernah mengeluarkan sebuah teori Balon (ballon theory). Sebab suatu hari nanti balon Singapura itu akan menjadi terbatas, sebab semuanya harus mereka import. Keterbatasan itu nantinya akan menyebabkan terjadinya high cost yang kontra produktif yang tidak bisa menguntungkan. Selanjutnya hal itu juga bisa menyebabkan tidak tidak memperkuatnya daya saing yang melemah. Akibatnya bisa memicu balik stabilitas kejayaan.

            Oleh karena itu adalah wajar, dari dekatnya antara Singapura dengan Indonesia, kita bisa membuat sebuah kerjasama yang saling menguntungkan. Untuk itulah, maka Batam perlu dikembangkan menjadi salah satu balon. Jadi hubungan antara balon Singapura dan balon Batam (Indonesia) perlu direkayasa secara cerdas dan benar sehingga bisa  saling menguntungkan. Sebab kondisi kedua balon berbeda, di mana balon Singapura merupakan wujud balon besar, sedangkan balon Batam masih berupa balon kecil.

            Itulah sebabnya pada waktu bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew kita perlu membicarakan dasar-dasar pemikiran secara win-win solution yang saling menguntungkan antara Singapura dan Indonesia, khususnya pulau Batam.  Berkaitan dengan SDM dan pola pembangunan yang sudah berubah, maka area Batam perlu dijadikan sebagai kawasan Tax Free (bebas bea) seperti sistem perdagangan bebas yang berlaku di Singapura.  Kalau di Batam tidak dijadikan sebagai sebuah zona perdagangan bebas seperti Singapura, maka akan bisa menimbulkan berbagai kesulitan. Sebab dalam kerjasama ini harus dilakukan dengan pola dan sistem ekonomi yang sama. Kalau pola dan sistemnya tidak sama, nantinya akan menyebabkan terjadinya kepincangan. Oleh karena itu ide tersebut pada akhirnya disetujui dan dilaksanakan, dimana saya sendiri dipercaya untuk mengembangkan pulau Batam.

            Sebelum dikembangkan, pada waktu itu pulau Batam hanya dihuni kurang lebih 6000 jiwa saja. Jumlah jalan juga masih sangat terbatas. Jadi sangat tidak mungkin kita membangun lapangan terbang sebab jalannya belum ada.  Orang-orang kalau mau masuk Batam harus melalui pantai, tepatnya di wilayah Sekupang sebagai satu-satu akses masuk Batam.

            Era baru pembangunan Batam dimulai, yaitu ketika datang Otorita Batam (OB) dengan didukung pegawai yang berpengalaman dan professional. Pada saat itulah baru dimulai pengembangan perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki Batam. Batam pun menjelma menjadi sebuah kawasan perdagangan bebas, di mana barang-barang masuk Batam tidak dikenakan pajak (tax free).  Semua ini ternyata sangat efektif untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Batam. Pada saat yang bersamaan, Batam pun memerlukan SDM-SDM handal dan professional. Dalam bahasa lain, kalau dahulu cukup dengan memberikan layanan pendidikan tingkat TK dan SD, maka sekarang dibutuhkan  SMP dan SMA.

            Setelah itu semua berjalan dengan baik, maka kita mulailah era investasi, seperti industri elektronik, perdagangan kapal dan industri bidang lainnya.  Mengantisipasi kondisi tersebut sangat diperlukan SDM-SDM handal yang mempunyai skill atau keahlian. SDM tersebut hanya bisa dihasilkan melalui Sekolah Kejuruan.

            Ketika saya masih menjabat sebagai Ketua Otorita Batam, dan yang menjadi Kabalak adalah Bapak Soedarsono Darmosuwito. Beliau adalah pensiunan militer dengan pangkat Mayor Jenderal. Saya tekankan kepada beliau untuk mempersiapkan SDM-SDM yang berorientasi pada permintaan pasar, tepatnya mempersiapkan  sebuah lembaga pendidikan atau sekolah yang berorientasi pada program keahlian dalam bentuk Sekolah kejuruan, bukan STM.

            Pada waktu saya membuka sebuah industri pesawat terbang di Indonesia, tepatnya di Bandung, yaitu IPTN,  saya sangat membutuhkan tenaga-tenaga trampil dan handal. Secara otomatis tamatan STM Indonsesia tidak bisa saya pakai, sebab tidak memenuhi syarat.  Pendidikan STM masih terlalu dasar. Dalam arti kata tamatan STM hanya melahirkan SDM yang hanya mengerti tetapi tidak bisa diajak untuk bersaing.

            Itulah sebabnya saya mendirikan sekolah sendiri di IPTN. Sekolah ini dipersiapkan untuk mencetak tamatan yang mempunyai skill cleaver,  sehingga bisa siap pakai dan bisa bersaing. Sekolah Kejuruan yang saya kembangkan tersebut saya adobsi seperti Sekolah Kejuruan yang ada di Jerman. Model sekolah kejuruan di jerman sama seperti Negara Belanda dan Francis. 

            Sekolah Kejuruan yang saya kembangkan di IPTN banyak diprotes orang karena menyalahi prosedur dan peratutan yang berlaku. Namun Sekolah Kejuruan di IPTN itu tetap saya lanjutkan. Mereka mengancam kalau lulusan Sekolah Kejuruan IPTN yang saya kelola tersebut tidak akan mendapatkan ijazah. Lantas saya menegaskan, bahwa yang  terpenting bagi saya adalah bahwa sekolah ini bisa  menciptakan lulusan yang bisa bekerja di perusahaan yang saya pimpin. Saya tidak butuk ijazah, yang saya perlukan adalah skill atau keahlian.       

            Untungnya, meskipun saya banyak ditentang orang, tapi saya berhasil meyakinkan Bapak Presiden Soeharto bahwa Sekolah kejuruan itu bisa dilaksanakan oleh IPTN.  Oleh sebab itu, ketika mengembangkan kota Batam, dengan melihat potensi yang ada, maka kita membutuhkan tenaga-tenaga atau SDM yang mempunyai keahlian sesuai dengan permintaan pasar.  Lantas saya minta kepada Bapak Soedarsono untuk merintis pembangunan sekolah kejuruan di pulau Batam.

            Sekolah Kejuruan baru bisa diterima secara umum di Indonesia ketika Bapak Wardiman  menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional.  Kebetulan beliau adalah sahabat karib semenjak masa perpeloncoan di ITB Bandung.

            Intinya, sekolah kejuruan di Batam harus dikembangkan, di mana sebagai pelopornya adalah Sekolah Kejuruan yang ada di IPTN.  Bedanya, kalau di IPTN tamatannya yang memakai adalah IPTN sendiri, sedangkan  Sekolah Kejuruan yang ada di Batam hanya sebatas memproduk, di mana tamatannya akan dipakai oleh perusahaan dan industri yang ada di Batam.

            Oleh karena itu, ke depan saya menyarankan agar Yayasan Keluarga Batam (YKB) harus mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada permintaan pasar. Hal ini sangat penting agar pendidikan yang dikelola selama ini bisa menjawab tantangan dan memenuhi harapan masyarakat luas.