Profil Ny. Sri Soedarsono

Profil Ny. Sri Soedarsono

PROFIL  NY. SRI SOEDARSONO

 

Sri Soedarsono dilahirkan pada hari Minggu 8 Oktober 1938 di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Oleh orang tuanya Bpk. Alwi Abdul Djalil Habibie dan Ny. R.A. Tuti Marini Habibie memberinya nama Sri Redjeki Chasanah. Dalam bahasa Jawa Sri berarti perempuan cantik, rejeki adalah anugerah yang diberikan Allah SWT kepada mereka dan chasanah dalam bahasa Arab berarti kebaikan. Sri Rejeki Chasanah, sebuah nama yang sarat makna; seorang perempuan cantik yang diharapkan membawa banyak rejeki dan menebarkan kebaikan. Tentu saja kedua pasangan suami isteri itu berharap agar bayi yang baru saja dilahirkannya itu, menjadi anak yang soleh dan berguna bagi nusa dan bangsanya.

Nama yang diberikan pasangan suami isteri itu merupakan perpaduan nama Jawa dan Islami. Ini mungkin karena asal usul kedua orang tuanya. Ny. RA Tuti Marini Habibie adalah seorang priyayi asal Purworejo Jawa Tengah. Sedangkan Alwi Abdul Djalil Habibie, seorang lelaki muslim asal Gorontalo yang dikenal taat beragama yang sarat dengan nuansa Islami. Karenanya, tak heran jika kedua pasangan suami isteri itu memberikan nama untuk anaknya yang merupakan perpaduan antara bahasa Jawa dan nuansa ke-Islaman.

Sri Soedarsono merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Mereka terdiri dari Titi Sri Sulaksmi Mathofani, Sutoto Moh Duhri, Alwini Karsum, Baharuddin Jusuf (Habibie), Junus Efendi, Sri Redjeki, Sri Rahayu, dan Suyatin Abd. Rahman.

Pasangan suami Ny Ra Tuti Marini Habibie dan Alwi Abdul Djalil merupakan pasangan yang sangat dihormati dan disegani di daerah tersebut. Alwi Abdul Djalil Habibie, tidak saja dikenal sebagai orang yang taat beragama, mudah bergaul, tetapi juga memiliki kharisma yang kuat serta mempunyai jabatan penting di daerah tersebut. Saat itu, Alwi Abdul Djalil Habibie menjabat sebagai Landbouwconsulet Pare-Pare, atau setingkat Kepada Dinas Pertanian saat itu. Ayah Habibie yang lahir di Gorontalo 17 Agustus 1900 adalah Lulusan Sekolah Pertanian dari Bogor yang ketika di zaman Belanda disebut Buitenzorg.

Begitupun Ny RA Tuti Marini Habibie, ibunda Sri. Bila mengurut pada silsilahnya, Ny RA Tuti Marini Puspowardojo Habibie yang lahir 10 November 1910, memiliki keturunan ningrat dari tanah Jawa. Hanya saa, keluarga tersebut dan Ny RA Marini Habibie sendiri memang tidak pernah menginginkan untuk menonjolkan silsilahnya. Gelar Raden Ajeng (RA) yang disandangnya nyaris tak pernah digunakan. Gelar itu juga tidak diberikan kepada anak-anaknya lantaran posisinya sangat lemah. Dalam kamus gelar kebangsawanan, biasanya gelar raden, tidak dapat diteruskan dari seorang perempuan.

Meski Ny. RA Tuti Marini dan keluarganya tak menonjolkan untuk memperbesar asal-usulnya sebagai keturunan ningrat, namun ternyata dia sendiri sulit melepaskannya. Warga sekitarnya sangat menghormati statusnya sebagai keturunan ningrat. Ini terutama dari para pembantu-pembantunya. Para pembantunya selalu menyebut tuannya Doro Putri. Sebuah panggilan hormat untuk perempuan yang berasal dari keturunan ningrat.

Tentu itu saja, Ny. Ra Marini Habibie juga memiliki keturunan yang terdidik dan sangat menghargai pendidikan. Orang tua Ny. RA Tuty Martini merupakan seorang dokter yang bernama Dr. R. Ng. Tjitrowardoyo. Sungguh suatu jabatan yang bergengsi dan tak mudah untuk didapatkan pada zaman dahulu. Nilai-nilai inilah yang tampaknya mewarisi Ny. RA Tuti Martini Habibie. Perempuan yang terkenal luwes dalam bergaul itu cenderung berpikiran modern, moderat dan sangat mencintai pendidikan. Hingga generasi ke lima keturunan Tjitrowardojo banyak berprofesi sebagai dokter, kecuali dari keturunan Ny. RA Tuti Marini banyak yang menjadi insinyur.

Sri mengaku sejak kecil dirinya tak pernah mendapatkan perlakuan istimewa dari kedua orangtuanya dibandingkan kakak maupun adik-adiknya yang lain. Kedua orang tuanya memperlakukan anak-anaknya sama saja, tanpa kecuali. ”Kalian semua lahir dari rahimku. Keluarnya sama, sama-sama sakit.” begitu Sri menceritakan alasan ibunya memperlakukan sama kepada anak-anaknya.

Dalam penerapan pendidikan keagamaan kepada anak-anaknya, Alwi Abdul Djalil Habibie sangat ketat. Seluruh anak-anaknya diwajibkan untuk menjalankan perintah agamanya. Tidak terkecuali Sri. Nilai-nilai keagamaan telah ditanamkannya sejak Sri masih kecil. Sebelum masuk sekolah, Sri sudah diajarkan untuk mengaji, menjalankan salat wajib dan berpuasa ketika di bulan Ramadhan. Hampir setiap hari Sri belajar mengaji di masjid, kebetulan jarak rumah dengan masjid cukup dekat.

Mungkin karena postur tubuhnya yang kecil, membuat kakaknya kemudian biasa memanggil Sri dengan sebutan “Since”. Ada juga teman-temanya dan kerabatnya yang memanggil dirinya “Sritje”. Akhirnya “tje” dari namanya juga biasa dipanggil untuk anak-anak yang memiliki keturunan Belanda.

Sri memang tidak memiliki darah Belanda. Hanya saja status ayahnya yang pejabat diakui oleh kalangan Belanda. Panggilan kesayangan itu ternyata masih sering didengarnya hingga kini oleh mereka yang mempunyai kedekatan dengannya. Sejak kecil Sri juga dikenal pandai bergaul. Kepintarannya dalam bergaul menjadikan Sri memang dikenal mudah berteman dengan siapa saja. Tidak saja di kalangan teman-teman sesama perempuan, namun juga lelaki.

Karir ayahanda Sri terus naik. Dia dipercaya menjabat sebagai Ajun Konsulat Pertanian Makassar, Sulawesi Selatan. Karena itulah tahun 1945, keluarga Alwi pindah dari Pare-Pare ke Makassar, tidak terkecuali Sri

 

 

MASA SEKOLAH SRI

 

Hidup di zaman penjajahan tidaklah mudah. Banyak orang menderita. Banyak orang yang miskin, juga keamanan seringkali terganggu. Sesekali terdengar suara dentuman bom. Ini juga dirasakan Sri yang lahir di jaman penjajahan, tepatnya Perang Dunia ke-II. Sri kecil juga merasakan dirinya harus berlari bersama keluarganya mengungsi ke tempat-tempat yang dinilai lebih aman, ketika terdengar bom akan jatuh. Rata-rata warga di sekitarnya bersembunyi di bawah tanah, yaitu di sebuah perkampungan yang dinamakan Lanre.

Tapi Sri mungkin termasuk orang beruntung sejak kecil. Ketika anak-anak Indonesia diliputi kemiskinan akibat penjajahan, tidak demikian halnya Sri. Ketika anak-anak umumnya harus jalan kaki tanpa alas kaki ke sekolah rakyat, bahkan banyak pula yang tidak mampu mengenyam bangku sekolah, dia telah biasa diantar jemput mobil ayahnya. Maklum ayahnya adalah salah satu pejabat di Makassar.

Rumah milik ayah Sri yang terletak di Jalan Mercaya I Makassar berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar. Bangunannya tidak saja kokoh bergaya Belanda, tetapi juga indah. Halamannya cukup luas. Sebagian halamannya dihiasi dengan bunga-bunga yang indah terutama anggrek. Sedangkan yang lain ditanami berbagai buah-buahan seperti jambu, mangga, dan lainnya.

Sejak pindah ke Makassar tahun 1945, Sri disekolahkan ayahnya di sekolah Belanda. Namanya Concordate Largee School. Sekolah tersebut dinilai memiliki kualitas yang bagus. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sekolah tersebut, melainkan orang-orang Indonesia yang diakui oleh Belanda. Umumnya anak-anak yang sekolah di situ anak-anak pejabat dan anak-anak Belanda sendiri. “Kalau tidak salah, saya satu-satunya orang Indonesia yang bersekolah di sekolah Belanda,” kata Sri bangga.

Pergaulannya yang mayoritas dengan anak-anak Belanda, membuatnya fasih berbahasa Belanda. Apalagi kegemarannya membaca membuat Sri makin fasih berbahasa Belanda hingga kini. “Saya bisa bahasa Belanda karena teman-teman saya dulu pandai berbahasa Belanda. Dan saya pandai memeliharanya. Saya juga terbiasa membaca buku-buku berbahasa Belanda,” ujarnya.

Meski prestasi di sekolah tergolong biasa-biasa saja, tapi kelebihan Sri yang paling menonjol adalah pergaulannya. Sifatnya yang luwes dan pandai bergaul membuatnya kenal hampir semua orang. Kelincahannya membuat Sri juga aktif di berbagai kegiatan sekolah, terutama Kepanduan atau yang biasa disebut Kurcaci.

Mata pelajaran yang paling digemarinya yaitu sejarah dan ilmu bumi. Hampir setiap buku dibacanya. Tidak saja pelajaran sekolah, melainkan ilmu pengetahuan pada umumnya. Dia kerap mencari tahu letak-letak benua atau negara-negara di berbagai belahan bumi seperti Afrika, Amerika, Jerman, dan sebagainya.

 

 

MENGERTI  ARTI PENTING PENDIDIKAN

 

Kebahagiaan Sri hidup bersama ayah dan ibu yang mencintai dan dicintainya tiba-tiba terengut pada 3 September 1950. Mengapa tidak, ayah Sri meninggal ketika Ibunya berumur 36 tahun dan sedang mengandung adiknya yang berumur tujuh bulan. Sedangkan saat itu, Sri sendiri baru 12 tahun. Meski masih muda, namun sedikit-sedikit masih mengingatnya.

Saat ayahnya meninggal, Sri masih duduk di sekolah di Sekolah Rakyat. Begitu juga dengan kakaknya Junus Efendi yang akrab dipanggil Fanny, dan adiknya Yayu (Sri Rahayu). Sedangkan kakak-kakaknya, Titi sudah selesai sekolah, Toto di Sekolah Pelayaran dan Wenny di HBS. Begitu juga dengan Rudy, nama panggilannya Baharudin Jusuf Habibie, duduk di kelas I HBS.

Sri mengaku kurang merasakan peran dari ayah. Ini karena dirinya ditinggalkan ayahnya ketika masih kecil. ”Saya tidak banyak tahu tentang ayah. Tapi ayah memang mendidik kita dalam kejujuran, kesempatan untuk belajar, menjalankan agama yang bagus, dan harus sekolah, ”Sri pun masih teringat, ayahnya sangatlah bijak.

Sepeninggal ayahnya, Sri dan anak-anaknya yang lain ditempa ibunya. Ibunya yang memegang kendali. Pendidikan ibunya begitu kuat. “Anak-anaknya diajarkan untuk hidup mandiri. Anak-anak dididik untuk bekerja dan bisa melakukan apa saja. Meski tidak mudah menanggung delapan orang anak, tetapi tekad ibunya, Ny RA Habibie untuk mandiri dan begitu kuat dalam mendidik anak-anaknya. Dia bekerja untuk membesarkan anak-anaknya,” ujar Sri mengenang ibunya.

Sepeninggal ayahandanya, otomatis ibundanyalah yang menghidupi dan membesarkan kedelapan anak-anaknya. Dia telah bertekad untuk membesarkan anak-anaknya dan mewujudkan cita-cita almarhum suaminya untuk memajukan pendidikan bagi anak-anaknya.

Menjadi seorang single parent, tidaklah mudah. Tidak saja harus memikirkan biaya hidup sehari-hari, tetapi juga memikirkan masa depan dan pendidikan anak-anaknya. Masalah pendidikan inilah yang paling diutamakan Ny. RA Tuti Marina Habibie. Baginya pendidikan adalah warisan yang tak bisa ditawar-tawar lagi untuk masa depan anak-anaknya.

Sebagai seorang ibu, Ny. RA Tuti Marina Habibie sangat menyadari bahwa pendidikan adalah modal utama untuk membangun masa depan anak-anak yang lebih baik. Hal itu terutama ditujukan untuk anak laki-lakinya. Karena itu tidak heran kalau ibunya begitu sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ibunya sangat yakin, jika pendidikan anak-anaknya baik, maka kelak masa depannya akan lebih terjamin.

Ny. RA Tuti Habibie bersama keluarga akhirnya memutuskan pindah ke Bandung. Rumahnya di Makassar dijual untuk biaya pendidikan anak-anaknya sekaligus membeli rumah di Bandung. Alasannya, di kota ini pendidikannya lebih baik dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Banyak pilihan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di sini. Termasuk yang paling terkenal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tidak ada alasan bagi Sri untuk menolaknya. Sebagai seorang anak yang belum mengerti, dia ikut saja apa yang direncanakan orang tuanya. Tepat tahun 1950, keluarga besarnya pindah ke Bandung, sebuah kota yang pada akhirnya akan memberi pelajaran panjang dan turut menentukan sejarah dalam kehidupannya.

Keluarga Ny. RA Habibie menempati sebuah rumah letaknya cukup strategis, tepatnya di Jalan Imam Bonjol Bandung. Ibunya memilih membeli rumah di daerah tersebut sebab berdekatan dengan pusat kota dan perguruan tinggi ternama di kota Bandung  yaitu ITB yang terletak di Jalan Ganesha dan Universitas Padjajaran di Jalan Dipati Ukur Bandung. Untuk sampai ke dua kampus tersebut, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tepat di depan rumah keluarga tersebut juga berdiri Rumah Sakit Boromeus.

Bagi warga Bandung, kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan para elit kota Paris van Java itu. Hak ini terutama karena di kawasan tersebut banyak dihuni para kaum intelektual, cendekiawan, dan para pejabat kota Bandung.

Letak rumahnya yang setrategis dengan sejumlah perguruan tinggi di Bandung membuat permintaan tempat kos-kosan cukup tinggi. Permintaan inilah yang mendasari Ny. Tuti Marina Habibie untuk membuat kos-kosan bagi mahasiswa di rumahnya. Kebetulan rumah yang ditempati Sri dan keluarganya terbilang luas.

Saat itu usia Sri 12 tahun, ibunya menyekolahkan di SMP Ursula Bandung, salah satu sekolah Katolik di Kota Kembang itu. Letak sekolahnya yang hanya beberapa kilometer dari rumahnya, membuat gadis kecil yang merangkak dewasa ini setiap hari berjalan kaki ke sekolahnya.

Sekolah tersebut adalah sekolah katolik. Meski ibu dan keluarganya beragama Islam, namun ibunya menyekolahkan ke sekolah tersebut tidak hanya didasari letak sekolahnya yang berdekatan dengan rumahnya, tapi juga kualitas sekolah itu dinilai baik. Kedisiplinan yang ditanamkan sekolah begitu ketat. Pihak sekolah memisahkan antara pelajar putri dan pelajar putra.

Di rumah, ujar Sri, Ibunya mengajarkan pendidikan moderat. Dalam pergaulan, ibunya tidak memisahkan dan membedakan suku maupun agama. Ajaran itu nampaknya tertanam dalam hati sanubari Sri. Setiap hari ketika pulang sekolah, Sri berjalan kaki beramai-ramai dengan teman-temannya yang berasal dari berbagai suku dan agama. Di sini, selain bisa bersenda gurau dengan teman-temannya, juga sambil menyelami pribadi masing-masing. Ini adalah kebahagiaan sendiri bagi Sri. Sri tidak hanya bergaul dengan sesama suku dan agamanya, melainkan di luar etnisnya terutama China. Jiwanya yang nasionalis dan moderat telah berkembang dalam dirinya.

Di sekolah, meski semua mata pelajaran dilahapnya namun Sri menonjol untuk pelajaran yang paling disukainya terutama sejarah dah ilmu bumi. Selain pelajaran itu menggelitik hatinya untuk ingin tahu, ternyata dia menyukai gurunya bernama Ibu Ida. Sebab menurutnya, guru sejarah itu pintar. Sri juga aktif mengikuti kegiatan koor atau paduan suara di sekolahnya.

Ibu Ida, tidak saja pendidik yang baik, tetapi juga pintar menceritakan apapun yang diketahuinya tentang ilmu yang diajarkannya. Kepintarannya itu seperti pernah mengalaminya sendiri. Inilah yang membuat Sri begitu kagum dengan sosok Ibu Ida dan mata pelajaran itu.

Setelah satu per satu kakak Sri menikah, tinggalah Sri menjadi anak tertua di rumah itu. Meski usia masih terbilang muda, tapi tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya cukup besar. Ibunya memberi tanggung jawab dalam pengaturan keuangan keluarga. Dia bagaikan kasir dalam keluarganya.

Hal itu juga dibenarkan Yayuk, salah satu adik perempuannya. Menurut Yayuk, sejak remaja, kakaknya adalah kasir dalam keuangan keluarganya. Dialah yang menerima uang hasil kos-kosan yang dibuka ibunya di rumahnya. Dia juga yang bertugas untuk mengeluarkan berbagai keperluan keluarga termasuk mengirimkan uang sekolah kakaknya (B.J. Habibie) yang saat itu bersekolah di Jerman.

”Ketika remaja, kami perempuan tinggal berdua dan seorang adik laki-laki. Sedangkan kakak perempuan sudah kawin. Dan di rumah saya itu, banyak orang yang indekos. Karena ibu saya harus mencari uang untuk kelangsungan hidup kami dan adik beradik, maka kakak saya, Ibu Sri ini yang mengurus pengaturan uang. Dia kasir dalam rumah tangga. Baik itu untuk belanja, uang jajan dan lain sebagainya. Kalau ada apa-apa, saya harus minta uang sama dia,” kata Yayuk menceritakan tentang peran Sri di tengah keluarga ketika remaja.

Sri tampaknya tidak saja ditempa menjadi perempuan mandiri melainkan selalu peduli memikirkan orang lain. Benih-benih jiwa sosial dan peduli dengan lingkungannya mulai berkembang dalam jiwanya.

Sri pun tidak seperti remaja pada umumnya yang suka bersenang-senang dan keluyuran bersama teman-temannya di jalanan. Ini karena rasa tanggung jawabnya yang besar kepada keluarga. Bila pulang sekolah, Sri lebih memilih langsung pulang ke rumahnya untuk membantu orang tuanya.

Sri sangat menyadari apa yang diajarkan ibunya adalah untuk kebaikannya. Karenanya, dia selalu menuruti saja apa yang dikatakan ibunya. Demikian pula dalam hal kedisiplinan yang diajarkan dan dicontohkan ibunya.

Sri juga ditempa untuk menjadi perempuan yang mandiri. Ketika bangun pagi, setelah salat subuh, Sri langsung ke dapur. Tangannya yang cekatan, langsung membawa sapu dan lap untuk membersihkan di setiap sudut ruangan rumahnya.

Kemudian dia harus memotong roti untuk anak-anak kos, cuci piring, cuci baju, ngepel rumah dan sebagainya. ”Jadi kita dididik untuk bekerja dan bisa semua. Saya juga jadi supir. Ini karena ibu saya tidak punya supir. Saya juga harus mencuci mobil dan sebagainya,” katanya.

Dari pengalaman dan tanggung jawab inilah yang kemudian menjadi pelajaran berharga bagi dirinya. Hingga kelak dirasakan manfaatnya dalam memimpin berbagai organisasi. ”Tanggung jawabnya itu tampaknya sangat membantu beliau belajar berorganisasi yang dimulai dari rumah tangga. Saya kira memang beliau itu sejak muda sudah harus memegang tanggung jawab sebagai seorang ibu dalam keluarga,” cerita Yayuk lagi.

Meski hidup di kota besar, tapi Sri tetap mempertahankan adat ketimuran. Sebagai gadis remaja yang tumbuh bagaikan sekuntum bunga mawar, Sri berhati-hati dalam memilih pergaulan. Kalau malam, Sri lebih memilih diam di rumah bersama ibu dan adik-adiknya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP Ursula, kemudian dia melanjutkan ke Sekolah Asisten Apoteker (SAA) di Jl. Prof Dr. Eykman Bandung. Dirinya memilih sekolah kejuruan di SAA lantaran ibunya tidak sanggup menyekolahkannya ke perguruan tinggi. Karena itulah ibunya menyarankan untuk melanjutkan pendidikan ke kejuruan agar mudah mendapat pekerjaan.

Ibunya memang lebih memprioritaskan anak laki-lakinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Sedangkan anak-anak perempuan di arahkan ke sekolah kejuruan, seperti adik perempuannya melanjutkan ke sekolah perhotelan, sedangkan kakak-kakak perempuannya ke sekolah guru seperti SKKA.

Meski keinginan Sri untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi cukup tinggi, tapi Sri harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Saya tak melakukan protes dengan keputusan orang tuanga itu, karena saya menyadari dengan kemampuan orang tua,” tuturnya.

Selepas menyelesaikan pendidikan SAA, tak lama kemudian ia dilamar oleh seorang pria bernama Soedarsono Darmosoewito. Saat itu Soedarsono yang bekerja sebagai tentara menjadi ajudan Jenderal A. Haris Nasution atau biasa dipanggil Pak Nas. Sri menerima lamaran Soedarsono yang usianya berbeda 12 tahun di atasnya. Apalagi ibunya sudah menyetujui hubungan Sri dengan lelaki kelahiran Yogyakarta 5 Juni 1927 itu.

”Cita-cita saya waktu itu adalah bisa membantu orangtua saya. Karena ibu pernah bilang, kamu tidak perlu jadi dokter karena tidak bisa membiayai kamu, tapi kamu harus menjadi isteri yang baik, yang bisa mendidik anak-anakmu. Dan itu harus kamu terima. Dan karena itu, saya tidak punya cita-cita lain selain menjadi isteri yang baik dan menjadi anak yang baik, menurut pada orangtua,” katanya.

Acara pernikahanpun dilangsungkan pada tanggal 18 Januari 1958 di rumah kediaman Ny. RA Marina Habibie di Jl. Iman Bonjol 14 Bandung. Sejak itu resmilah Sri menjadi istri Soedarsono yang pangkat kapten. Jend. Nasution selaku atasan Soedarsono turut hadir dalam acara pernikahan tersebut.

Sejak itu pula namanya lebih dikenal sebagai Ny. Sri Soedarsono Darmosoewito. Bahkan kemudian ia lebih akrab dipanggil Bu Dar, sesuai dengan panggilan suaminya, Pak Dar. Dari hasil pernikahannya mereka dikaruniai 4 orang anak sebagai buah cintanya. Tiga laki-laki dan si bungsu perempuan. Keempat anaknya itu yaitu Masmaryanto BA, DR. Ir. Ade Avianto Msc, Ir. Harry Rudiono, dan Drg. Sri Utami.

Kehadiran Sri Soedarsono di Batam tahun 1978, terkait dengan tugas suaminya Mayjen TNI (Purn) Soedarsono Darmosoewito (Alm) yang mengemban tugas sebagai Ketua Badan Pelaksana (Kabalak) Operasi Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB) yang kemudian menjadi Otorita Batam. Suaminya dipercaya Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang saat itu menjadi Ketua Otorita Batam sekaligus juga kakak iparnya, untuk membangun Batam sebagai kawasan industri.

Sebelum tiba di Batam, Sri Soedarsono sudah menyadari kondisi Batam yang masih perlu penanganan serius. Ketika suaminya diminta Pak Habibie untuk memegang Pulau Batam, dia sudah diberitahukan tentang kondisi Batam.

Namun sebagai isteri tentara yang setia, Sri Soedarsono selalu siap menemani kemana pun suaminya dipindahkan. Karena itu, dia pun siap membantu ketika suaminya ditugaskan di Batam.

Mula pertama datang ke Batam tahun 1978, Sri Soedarsono belum tahu apa yang akan dikerjakannya. Padahal biasanya sesuai tabiatnya ia tidak bisa diam. Selalu saja ingin berbuat atau mengerjakan sesuatu yang ada manfaatnya. Apalagi manakala ia melihat kenyataan Pulau Batam sebagai daerah rintisan yang masih serba tertinggal.

Setelah melihat dan mencermati kenyataan yang ada, barulah kemudian ia berketetapan untuk membantu pembangunan Batam khususnya di bidang pendidikan. Pilihan ini tidak lain mengingat demikian pentingnya sektor pendidikan sebagai dasar pembangunan semua bidang. Tanpa pendidikan yang memadai, tidak mungkin membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sementara tanpa SDM yang mumpuni tidak mungkin menghasilkan pembangunan berbagai sektor yang dibutuhkan di Batam. Artinya, kuncinya pembangunan adalah SDM, dan kuncinya SDM adalah pendidikan.

Kesimpulan ini memantapkan langkah Sri Soedarsono untuk berkhidmat pada pendidikan di Batam. Dari sinilah ia bersama beberapa teman seperjuangan kemudian mendirikan Ikatan Keluarga Batam (IKB) yang selanjutnya berubah menjadi Yayasan keluarga Batam (YKB). Lembaga ini yang merintis sekolah-sekolah Kartini hingga terus berkembang seperti sekarang.