Konsep Friendly School

Konsep Friendly School

Senin, 9 Februari 2009 16:03:26 - oleh : heri-f

Konsep Sekolah Ramah Anak “Friendly School”

(Sebuah Perwajahan Sekolah Masa Depan)

 

Paradigma pendidikan merupakan hal yang sangat elastis. Ia akan terus berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan kehidupan dan daya kreativitas  manusia.  Di era modern ini masyarakat  berbasis ilmu pengetahuan (knowledge society) merupakan          perwajahan bagi masyarakat dunia masa depan. Masyarakat yang tidak mampu menguasai ilmu pengetahuan  akan terlindas, dan bahkan  akan menjadi budak bagi           masyarakat yang telah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

         Di Indonesia,  telah tersebar berbagai paradigma pendidikan yang banyak ditawarkan para pakar pendidikan, dengan harapan dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Di antaranya, paradigma pendidikan yang menganut sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang tengah dipakai dalam sisdiknas saat ini, pendidikan dengan pendekatan multiple intelligence (Howard Gardner, Thomas Armstrong,  Daniel Goleman, Rober Coles dan Danah Zohar, Ary Ginanjar Agustian, dll), paradigma pendidikan multikultural (H.A.R. Tilaar), dan paradigma pendidikan inklusi (Hasil Deklarasi Bandung 2004  dan Deklarasi Bukit Tinggi Padang 2005).

         Semua paradigma pendidikan tersebut mencoba memberikan penyegaran untuk mencari format baru pendidikan sekolah yang sesuai dengan tuntutan masyarakat Indonesia yang memang dikenal cukup  kompleks.  Sebab pendidikan itu tumbuh  sebagai proses dialektika antara sistem  pendidikan itu sendiri dan masyarakat sebagai konsumen yang menikmati suatu sistem pendidikan.

         Sudah tiba saatnya kita meninggalkan sistem pendidikan yang  terlalu mendewakan  ordo kelas dan penerapan kurikulum yang kaku dan ketat. Sebab sistem seperti itu bukan membangun kreativitas anak, tapi justeru membunuh semangat belajar anak pada saat antusiasme belajar sangat dibutuhkan.

         Stephanie Pace Marshall (Direktur Eksekutif Illinois Mathematics and science Akademy) menyatakan; bahwa sistem sekolah yang terlalu mendewakan ordo kelas  dan penerapan kurikulum yang kaku dan ketat sudah tidak relevan lagi.  Menurut beliau sistem persekolahan  kita saat ini sekarang ini adalah sebagai wujud sekolah model ”Newtonian” yang memandang dunia ini bergerak secara linier. Otak manusia hanya  dilihat sebagai ”kaset kosong” yang bergerak menurut hukum mesin-mesin yang konstan dan teratur.

         Padahal dalam kenyataannya, sistem-sistem yang terdapat pada diri manusia adalah sama seperti halnya alam ini, yaitu tidak bisa diramalkan.  Dalam proses  pendidikan pun demikian adanya.  Perubahan non linier dan proses belajar adalah sangat dinamis dan berpola. Manusia tidak serta merta mengikuti logika sebab akibat. Oleh sebab  itulah pada hakikatnya manusia (dalam hal ini para anak didik) menginginkan keterkaitan, arti dan makna. Dalam pendidikan juga perlu ditekankan hubungan harmonis yang langgeng dan berarti, tumbuh dengan berbagi bukan dengan menyimpan rahasia, sikap percaya dan dipercayai agar terwujud rasa aman, ramah dan berana dalam diri anak didik.

         Untuk itu, sebuah  paradigma pendidikan yang memberi rasa aman, ramah pada anak dinilai dapat membangun daya imajinasi, kreativitas anak didik, dan menyalurkannya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki anak. Itulah salah satu alasan  mengapa paradigma pendidikan yang ramah terhadap anak perlu dibangun agar kelak  sekolah menjelma menjadi tempat yang menyenangkan bagi dunia anak-anak yang memang penuh keceriaan. 

Hakikat pendidikan pada intinya adalah memanusiakan manusia. Ini adalah hakikat pendidikan dalam pengertiannya secara makro, artinya pendidikan        menjadi wadah untuk mengarahkan manusia agar tetap/selalu  berjalan            sesuai   dengan fitrahnya sebagai makhluk Tuhan, yaitu menjadi manusia yang        berperadaban, mulia, dan       berguna untuk manusia dan alam sekitarnya. 

Sedangkan hakikat pendidikan dalam pengertiannya secara mikro adalah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses transmisi pentransferan atau alih  ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Pewarisan Iptek  merupakan hal yang sangat penting agar generasi penerus mempunyai profesionalisme sesuai dengan bidangnya agar dapat membangun bangsa dan negara yang mereka huni.

Jadi hakikat pendidikan secara mikro adalah menciptakan memberikan bekal  keahlian (Life Skill) atau kemampuan intelektual dengan dibarengi mentalitas spiritual yang unggul  pada tiap anak didik sehingga keberadaanya di masyarakat dapat berguna untuk dirinya dan juga  orang lain.

kirim artikel | Cetak

Berita "Konsep Friendly School" Lainnya