ABSENSI SISWA DAN GURU SMA KARTINI GUNAKAN FINGER PRINT, BEL KOMPUTERISASI

ABSENSI SISWA DAN GURU SMA KARTINI GUNAKAN FINGER PRINT, BEL KOMPUTERISASI

Minggu, 23 September 2012 21:19:43 - oleh : iputera


“FINGER PRINT DAN COMPUTER SYSTEM BELL”

Hallo pembaca yang baik, kali ini saya akan membahas mengenai “Finger Print dan Bell Komsis” yang ada di SMA Kartini. Dan itu semua baru ada di sini (SMA Kartini), Jangan heran kalau SMA Kartini selalu tampil beda dalam segi apapun, kalau tidak beda bukan SMA Kartini namanya.

Biasanya di sekolah lain jam 7 sibuk berbaris didepan kelas masing-masing. Berbeda dengan sekolah SMA Kartini, mereka beramai-ramai baris di depan kantor karena untuk absensi finger print. Bukan hanya murid saja yang finger print, tetapi guru beserta pegawai lainnya pun wajib melakukan finger print disana. Biasanya satu hari dilakukan dua kali, yaitu pagi ketika datang dan sore ketika akan pulang. Jika finger print lupa dilakukan maka akan dianggap tidak hadir. Sedangkan apabila belum saatnya jam pulang siswa sudah lebih dulu pulang, tanpa ada konfirmasi dengan guru piket, dianggap cabut.

Finger print juga mendapatkan beberapa tanggapan dari murid yang ada di SMA Kartini, “Aku suka dengan diadakannya finger print ini, tapi tolong ditambah lagi mesinnya agar antri tidak terlalu panjang,” tutur Krishna Bayu Pratama dari kelas XI. Bukan hanya itu saja ada juga tanggapan finger print dari kelas XII, “Menurutku sih finger print itu terlalu dini dan resikonya lebih besar dari kenyataan,” tutur Wendy Saputra. Itu semua tanggapan sebagian siswa-siswi SMA Kartini Batam selama diadakan finger print di sekolah.

Selain finger print, SMA Kartini juga memakai bel pergantian pelajaran yang berbeda, yaitu secara sistem komputer. Bel yang diperdengarkan dengan sistem komputer ini sangat canggih, pergantian jam disetting secara otomatis dari komputer. Ketika pergantian jam, selalu ada kata-kata yang keluar, bukan seperti bell yang dulu yang hanya berbunyi “kriiiiiiiiiiing”. Suara yang berbeda ini bisa membuat bel SMA dan SMK tidak tertukar atau keliru. Karena SMA dan SMK berdekatan, banyak anak yang keliru dengan bel sekolah mereka sendiri dengan bel SMA Kartini, yang letaknya memang berdampingan.

Bukan hanya finger print saja yang mendapatkan tanggapan, tetapi bel komsis juga mendapatkan beberapa tanggapan dari murid SMA Kartini. “Bagus sih diadakan bel komsis dan speaker tiap kelas, cuma tolong diperhatikan volumenya lagi, kadang kecil kadang kuat,” tutur Ketua OSIS SMA Kartini (Gilrandy Makmur Duni ). Tidak dari Ketua OSIS saja, Amirul dari kelas X berkata, ”Dengan adanya bel komsis ini murid sudah tidak keliru lagi dengan bel sekolah,”. Bahkan dari kelas XI juga ada yang bertanggapan, “Asik ada bel komsis dan mendapatkan nilai lebih dari murid-murid disini,” tutur Krishna Bayu Pratama.

Dapat kita lihat, di daerah Batam belum ada sekolah yang memakai mesin finger print dan bel komsis disekolahnya, melainkan sekolah SMA Kartini yang sudah maju satu langkah terlebih dahulu. Ini semua membuktikan bahwa SMA Kartini selalu tampil beda dalam segi apapun.

Tanggapan demi tanggapan pun direspon oleh kepala sekolah kita (Bu Retno), “Tujuan ibu mengadakan finger print untuk melatih kedisiplinan terhadap waktu, membudidayakan antri. Sedangkan untuk bell komsis untuk membedakan dengan SMK Kartini, agar murid pun tidak keliru bell sekolah,”. Selain tujuan Bu Retno juga menerima beberapa tanggapan dari murid-nurid SMA Kartini, dan Bu Retno memberikan beberapa jawaban yang memuaskan. “Mengapa mesin finger print hanya diadakan satu, karena satu mesin bisa memuat 3000 data, sedangkan di SMA kita hanya sekitar 400 termasuk murid dan kariawan sekolah, jadi ibu rasa tidak perlu menambah mesin finger print, dan mengenai pemantauan semua sudah terdeteksi melalui komputer, yang terlambat pun bisa ditindak lanjut dengan cepat. Sedangkan untuk bell komsis, insyaAllah akan lebih di perhatikan lagi, terutama mengenai volume, dan akan memakai sistem IT agar lebih tepat waktu. Dan itu semua akan menjadi sesuatu yang dirindukan oleh anak-anak SMA Kartini,” tutur Bu Retno (kepala sekolah).

Selain itu Bu Retno juga menerima beberapa saran dari murid-murid, bahkan akan di tindak lanjut oleh beliau mengenai saran dan tanggapan itu, agar di sekolah tidak ada yang merasa dirugikan.

kirim artikel | Cetak

Berita "SMA Kartini" Lainnya